Selasa, 10 Mei 2011

Title: Friend? Brother? Or...? chap.1/???

Title: Friend? Brother? Or...? chap.1/???

Author: Matsutaka Ruu

Rating: PG-13?? o.O

Genre: Humour, Romance, Angst

Fandom(s): The GazettE, Alice Nine, Versailles, Kra, dll...

Disclaimer: All the casts aren't mine.... I just kidnapped them! bwahahaha~

Author's note: Maaf, ini fanfic pertama saya... Mohon dimaklumi.... *bows* ^.^







CIIT~ CIIT~ CIIT~

Sebuah pagi yang cerah di lingkungan Cassis......


Matahari bersinar terang. Angin pagi berhembus lembut, mengantarkan aroma embun dan tanah basah. Awan-awan bergerak lambat, membayangi muka bumi. Kicau burung bersahutan menyambut indahnya nuansa pagi. Udara yang sejuk pastinya membuat tentram semua orang...

Yah, kecuali seseorang.....



***



“TELAT! TELAT!!” seru Reita saat menyambar tas sekolahnya.

Liburan kenaikan kelas memang membuat semua siswa terlena akan kemalasannya. Tidak terkecuali Reita. Tapi untuk masalah Reita, tidak usah heran. Jangankan sehabis libur, hari ujian saja dia tetap terlambat. Untungnya semua guru di DIM High School memiliki kesabaran yang teramat sangat ekstra untuk bisa menghadapi Reita. (setelah ini, author sudah knock out dimutilasi istri-istrinya Rei-Chan). Dan beruntungnya lagi, ia hanya telat 10 atau 15 menit, tepat saat sang guru sedang mengabsen siswa-siswanya. Jadinya ia masih diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran. Yah, bisa dibilang dia masih selamat sampai saat ini....

“Haddooohh~ Pelajaran pertama Bahasa Inggris lagi.... Bisa dibunuh Kamijo-sensei nih....” gerutunya sambil menyalakan motor Harley-nya dan melesat dengan kecepatan tak terhingga.

***

DIM High School, kelas 3A....

“Reita telat lagi deh....” ujar Miyavi sambil melihat jam tangannya. Ia sedang duduk dibangkunya yang merapat ke jendela sehingga ia bisa bersandar ditembok. Ia duduk menghadap ke samping dengan satu kaki dilipat dan tangan kanannya bertumpu ke sandaran kursi. Siswa berandalan yang satu ini memang suka makan permen, jadi sekarang ini pun dia sedang mengemut sebuah lolipop merah.

“Iya nih....” jawab Ruki yang duduk dibangku belakangnya dengan lesu.

“Hei, kok mukamu malah sendu gitu?? Dia emang biasa telat kaliii....” Miyavi mengacung-ngacungkan lolipopnya.

“Iya tau.... Tapi kan tetep aja....”

Belum sempat Ruki menyelesaikan kalimatnya, pintu kelas terbuka dan menampilkan Kamijo-sensei. Guru yang satu ini bisa dibilang sangat nyentrik. Rambutnya dicat pirang dan kalau kemana-mana suka pakai lens dengan warna yang mencolok. Seperti saat ini, dia memakai lens berwarna biru yang membuatnya terlihat seperti turis sejati. Mungkinkah dia terobsesi untuk menjadi orang asing dan hengkang dari Jepang? (author dibantai fans-fansnya Kamijo) XD. Tapi, dengan gaya rambut yang agak berantakan dan muka yang agak pucat membuatnya nampak cakep dan awet muda seperti vampir. Ataukah memang dia adalah seorang vampir? (lagi-lagi, dimutilasi fans Kamijo).

“Good morning, class.. Before we start, may I know who’s absent today? ‘Cause I saw an empty chair over there....” Kamijo-sensei menunjuk sebuah bangku kosong. Semua mata pun tertuju pada bangku itu.

Bangku Reita....

Dengan tampang yang ‘biasa saja’, seorang murid ingin menjawab....

“Sir, that’s......”

Sebelum siswa itu sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu kelas didobrak. Menampakkan sosok Reita yang megap-megap ala ikan mujair kekurangan oksigen.

“Ma... Eh, I mean sorry, sir....” untungnya otak Reita masih berjalan dengan baik untuk sekedar minta maaf dalam bahasa Inggris.

Tapi semua siswa sekelas tertawa.... Tawa kesetanan....

“Eh...? Salah ya..?”

Reita keheranan melihat teman-teman sekelasnya kerasukan massal. Saat matanya bertemu dengan Ruki yang melambai-lambaikan tangan ala peserta uji keberanian yang pengen nyerah dan Miyavi yang berusaha menahan tawa dibangku belakang, ia melihat 2 sahabatnya itu mengisyaratkan sesuatu yang berhubungan dengan hidungnya. Dan saat itu pula Reita sadar....

“OMIGOT!! Aku lupa masang noseband!!!”

Dan anak-anak pun makin menggila....

Melupakan Kamijo-sensei yang sudah ngeluarin taringnya..... (lhooo??)

***

Di kantin DIM High School, jam istirahat.....

“BWAHAHAHAHAHA!!! Gimana sih kamu, Rei-chan???” tawa Miyavi tak dapat dibendung lagi. Riuhnya suasana kantin tak dapat meredam suara yang sudah ia tahan selama pelajaran Kamijo-sensei tadi.

“Duuh... Gak usah diingetin lagi! Imej-ku jadi jelek nih!”

“Halah.... Salah siapa coba?? Masih bisa ngomong imej lagi! Bwahahahahaha!!!” entah setan apa yang sudah menempel di Miyavi, meja kantin yang malang menjadi korban kepalan tangannya.

Ruki hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat kedua sahabatnya yang gila itu. Ia sebenarnya sangat ingin tertawa. Tapi ia tidak ingin menyinggung perasaan Reita yang sudah cukup terhina oleh Miyavi. Cowok kecil satu ini memang kalem dan ramah, sangat berbeda dengan 2 sahabatnya itu. Sifat aslinya sangat susah ditebak karena ia pandai menyembunyikan perasaannya. Termasuk perasaannya pada Reita.

Ya, Ruki menyukai Reita. Sangat suka. Bisa dibilang ia ingin selalu didekat Reita. Tidak normal memang, dan Ruki menyadari itu. Makanya, ia selalu berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia tahu, Reita pasti akan menolaknya dan memandang rendah dirinya. Karena itulah, ia memilih diam. Ia juga tidak ingin menghancurkan persahabatan yang mereka jalin semenjak kelas 1 dulu.

Kelas 1, yah.... Itu waktu yang cukup lama bagi mereka. Sebenarnya tidak hanya Miyavi, Reita dan Ruki. Masih ada Kai dan Uruha di kelas sebelah. Karena adanya perubahan kelas disetiap tahunnya, mereka pun terpisah. Tapi mereka masih sangat dekat dan secara kebetulan, rumah mereka pun berdekatan. Itu membuat mereka sangat akrab dan mengenal satu dan yang lainnya. Tapi, bagi teman-teman mereka yang lain, persahabatan mereka bisa dibilang aneh.

Miyavi dan Reita terkenal berandalan dan troublemaker. Sementara itu, ada Ruki dan Uruha yang terkenal sangat pemalu dan tertutup. Ditambah lagi dengan Kai yang ramah, murah senyum, dan perhatian (giliran Kai dipuji-puji... :P). Lengkaplah sudah keanehan kelompok sahabat satu ini. Tak ada yang bisa membayangkan bagaimana orang-orang ini bisa bertemu dan bersahabat. Tapi yang jelas, sifat mereka masih tetap seperti dulu. Tidak ada yang terpengaruh, ataupun berubah.

“Heeeiii!!” seseorang berteriak kearah Reita cs. Dari suaranya yang bersemangat mereka bisa menebak bahwa itu Kai.

Mereka pun menoleh dan melihat Kai bersama Uruha sedang berjalan sambil membawa kaleng minuman menuju bangku tempat mereka menggila tadi.

“Haaiii, Kai-chan~! Helo jg, Uruha-kun!” sapa Miyavi.

“Kai-chan?? Kamu ini apa-apaan sih, Meev??” gerutu Kai sambil menghentakkan satu kakinya dan mencibir. (Nyaaa~ so cute, ne~?)

“Yah, ngambek dia.... Aku kan cuma bercanda... Sini, duduk, kalian berdua....”

Miyavi menggeser posisi duduknya dan merapat ke Ruki. Disaat yang bersamaan, Reita juga menggeser posisi duduknya dan mempersilakan Uruha untuk duduk.

“Haiah, kalian berdua tegang amat sih?? Biasain aja kenapa??” komentar Miyavi saat melihat Uruha duduk secara perlahan dengan Reita yang masih asyik menyeruput coca cola nya.

“Ah, berisik amat sih kamu.... Gak usah banyak komentar deh....”

“Beuh.... Lagian sama sahabat sendiri pake malu-malu gitu.... Nih, kayak aku dong....” kata Miyavi sambil meletakannya satu tangannya dibelakang pundak Kai. (ehem,ehem...)

“Meev! Apaan sih??” Kai berusaha menghindar.

“Yee.... Biar gitu juga aku ini masih bisa jaga kesopanan ya.... Gak kayak kamu....” gertak Reita.

“Jiaaahhh.... Gengsi dia...... Noh, kasian si Ruki ngebet pengen dipeluk ama kamu.... ”

“Eehh...? A..aku tidak...” Ruki langsung tergagap.

“Hush! Ngomong apa sih? Ngaco ah!” ujar Reita semakin memanas.

“Cieehhh.... Tuh dibela kan? Bwahahahahaha!!” tawa Miyavi lepas kembali. Dia ini memang paling suka menggoda sahabatnya yang bertampang ‘cool’ itu.

“Sudah ah!” Reita kemudian mengambil sebuah kaleng coca cola tanpa melihatnya terlebih dahulu dan kemudian meneguknya.

“Eeehh..... Ano, Reita... Itu minumanku....” kata Uruha tiba-tiba.

BRRUUUFF.... Reita menyemburkan minuman yang ada dimulutnya. Untung tidak mengenai Ruki. Dia menyemburkannya ke samping. Ruki, Kai, dan Uruha hanya bisa memasang tampang prihatin plus menahan tawa...

Sementara Miyavi saat itu juga butuh pengobatan dari rumah sakit jiwa profesional.....





TO BE CONTINUED.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar