Sabtu, 21 Mei 2011

Reita's birthday fic: For My Dear



Title : For My Dear
Author:  Ficchan Taka
Genre: fluff, romance, humour
Rating: PG-13
Pairing: Reita x Ruki (of course)
Warning: none. Just control your (pervy) mind. *ditebas*  XD
Disclaimer: I don’t own them. This is just my imagination…
Writer’s note : Ngg… Berhubung saya membuat fic ini jauh sebelum single mereka rilis, jadi segala kegiatan mereka yang mengenai event perilisan single Vortex disini hanyalah rekayasa saya semata. Eh, atau bisa dibilang SELURUH situasi disini hanyalah fiktif belaka. Hahaha…J
Summary: “Ada dua event penting yang sangat mendebarkan bagi Ruki. Yang pertama adalah perilisan single terbaru mereka, Vortex, dan yang kedua adalah ulang tahun ‘teman’ tersayangnya.”
Music:
SuG – Mujouken Koufukuron
Alice nine – 4U
UVERworld – Kimi no Suki na Uta


what can I do for your sake now? like all these small bouts of light
I want to give you all of these too, the kindness of what I'm feeling now



TEK! Jarum panjang itu pun bergerak ke menit berikutnya.

Seorang anak… Eh, atau lebih tepatnya seorang pemuda yang bertubuh relatif kecil dan berwajah imut sedang terbaring terlentang ditempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong namun pikirannya tidak sekosong tatapan itu. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang tidak bisa ditepis. Badannya terasa lemas hingga sejak 10 menit yang lalu ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan.
Tunggu sebentar. Apakah kalian sedang memikirkan apa yang terjadi pada pemuda itu sebelumnya? Jika iya, apakah kalian sedang memikirkan hal yang sama dengan saya? (hah, siapa lo?). Hmm, tapi sepertinya kalian harus membaca lagi kalimat ‘warning’ diatas.
Pemuda itu, seperti yang sudah bisa kita tebak bernama Ruki, baru saja pulang dari press conference dalam rangka perilisan single terbaru the GazettE, yaitu Vortex. Tentunya hari itu dilalui Ruki dengan sesi signature, wawancara, komentar, dan hal lainnya yang tentunya sangat menyita banyak waktu. Belum lagi sebagai acara penutup hari penting the GazettE ini, mereka mengadakan sebuah pesta intern kecil-kecilan yang bertempat dirumah Kai. Suguhan berupa bir, vodka, ataupun wine sudah cukup untuk menutup hari mereka yang melelahkan namun memuaskan itu. Akan tetapi, bagi Ruki, semua hal tersebut belum cukup melegakan segala penatnya. Sebab masih ada satu hal baru lagi yang mengganjal dipikirannya.
“Oh! Dan kita tidak boleh lupa untuk merayakan hari ulang tahun bassist kita, Reita!”
Sepenggal kalimat pidato dari Kai sebelum mereka melakukan cheers itulah yang membuat Ruki langsung termenung. Pesta itupun dilaluinya dengan biasa saja, tanpa luapan suka cita seperti yang lainnya. Nampaknya sih mereka terlalu mabuk untuk memedulikan keadaan Ruki saat itu.
Jadi, disinilah Ruki sekarang. Terkapar menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sejak ia pulang dari pesta itu ia sama sekali belum melakukan hal lain. Bahkan untuk sekedar mengganti bajunya pun tidak. Dia sendiri pun tidak tahu kenapa pengumuman hari ulang tahun Reita terasa begitu mendebarkan baginya.
“Hadiah apa yang bisa kuberikan padanya yah…?” ujarnya pada diri sendiri.
***

Keesokan harinya, Ruki terbangun dengan sebuah pemikiran di kepalanya. Ya, dia baru saja mendapat sebuah ide bagus untuk kado ulang tahun Reita besok. Bisa dikatakan, ia mendapatkan ilham tersebut dari mimpinya. Sebuah mimpi yang cukup manis dimana hanya ada dia dan Reita saja didalam kisahnya. Hhmm….
Sayangnya hari ini mereka punya jadwal interview dan live yang sangat padat. Pasti tidak ada waktu untuk berjalan-jalan ke toko aksesoris dan membelikan hadiah untuk Reita. Tapi, demi langit dan bumi, ulang tahunnya akan berlangsung besok! Mengingat hal itu saja rasanya sudah membuat Ruki ingin berteriak histeris bagai pekerja kantoran yang sudah dikejar deadline.
Ruki pun melirik jam. Angkanya menunjukkan pukul 7.45. Sepertinya sudah cukup siang untuk menelpon seseorang tanpa harus mengganggu tidurnya. Dengan buru-buru, Ruki langsung menekan nomor manager baru mereka.
“Moshi moshi….?” Jawab seseorang dari seberang telepon.
“Um, Minoru? Maaf mengganggumu pagi-pagi begini, tapi maukah kau membantuku?”
“Ngg… Tidak apa, Ruki-san. Apa yang bisa saya lakukan untuk Ruki-san?”
“Anoo…. Aku ingin kau membeli sesuatu. Tapi harus bisa kau serahkan besok…”
“Hmm… Itu bisa diatur… Memangnya Ruki-san ingin membeli apa?”
“Uumm… Tapi kau jangan tertawa ya!”
“Eh? Memangnya kenapa?”
“Pokoknya kau jangan tertawa!”
“Ngg… Baiklah…”
“Bagus! Jadi aku ingin membeli sebuah kalung.”

***

Keesokan harinya, pada hari ulang tahun Reita….

Singkat cerita, Minoru berhasil mendapatkan kalung pesanan Ruki. Seperti apakah bentuknya? Hhmm… Itu masih belum dapat diketahui. Sebab kalung itu masih tersimpan dengan aman dalam sebuah kotak berbentuk persegi panjang berwarna putih. Disekeliling bagian penutupnya masih tersegel dengan rapat seakan tidak membiarkan orang lain tahu isinya kecuali si orang yang dituju. Kotak itu juga dibalut dengan pita kertas berwarna biru dengan warna emas dibagian pinggirannya. Lalu dibagian pojok kanan atas dari bagian penutup kotaknya tersemat sebuah simpul bunga dari pita kertas dengan warna senada yang terlihat begitu manis. Semanis orang yang memesannya (beuh… >///<).
“Hhh… Untungnya kalung ini mudah dicari. Tapi kenapa Ruki-san sangat menginginkan kalung model begini yah?” gumam Minoru sambil terus berjalan.
Saat itu ia sudah memasuki kawasan gedung studio anak-anak the GazettE (ceilah, anak-anak… XP). Waktu sedang menunjukkan pukul 10 lewat beberapa menit. Biasanya sih mereka suka berkumpul disitu dan mengutak-atik instrument masing-masing. Yah, kalau mood sedang bagus atau suasananya mendukung, mungkin satu single baru bisa dirilis dalam waktu dekat. Namun sepertinya tidak untuk sekarang.
“Eh? Masih kosong? Atau jangan-jangan mereka tidak akan ke studio hari ini yah?”
Akhirnya Minoru memutuskan untuk mengistirahatkan persendiannya sejenak di sebuah sofa panjang berwarna cokelat. Ia memang agak lelah setelah beberapa lama menemani the GazettE di masa-masa kejayaannya ini. Sebenarnya, Minoru sempat berpikir, kenapa pula Sakai yang sudah bertahun-tahun menemani the GazettE harus digantikan olehnya? Tidak, tidak. Bukan berarti ia tidak senang akan tugas barunya ini. Hanya saja, ia masih sedang berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya ini. Ia juga mesti mempelajari kebiasaan-kebiasaan dan sifat-sifat dari para member the GazettE. Seandainya ia punya waktu yang cukup banyak, ia pasti akan berusaha untuk lebih mengenali mereka berlima. Akan tetapi, mereka sudah mulai terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk berbasa-basi dengannya. Minoru jadi berpikir, bukankah sebaiknya Sakai dipertahankan saja?
Tapi Minoru tidak ingin membuang-buang waktunya hanya untuk berpikir. Karena sudah terlanjur masuk ke lingkungan ini, maka ia harus mulai konsisten dan fokus. Yah, mungkin kebimbangannya itu muncul karena ia masih terlalu ‘baru’ dan banyak yang harus dipelajari. Lama kelamaan juga pasti terbiasa.
Tiba-tiba, lamunannya buyar gara-gara terdengar suara pintu yang terbuka dan menutup dengan agak keras. Ketika ditoleh, ternyata Kai yang datang.
“Eh, ternyata kau, Minoru…. Kukira aku lupa lagi mengunci studio tadi malam.” ujar Kai sambil terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya.
Satu pelajaran untuk Minoru: Kai menderita penyakit lupa akut.
“Ah, tidak. Saya juga baru saja datang kok. Lagipula saya kan juga bawa kunci duplikatnya.”
“Begitu yah? Hahaha~” Kai menebarkan tawa canggungnya. “Eheemm… Yaah… Sepertinya tidak ada yang datang yah?”
“Ngg… Iya. Mungkin mereka masih lelah.”
“Yah, itu biasa. Sepertinya sih cuma aku yang terlalu rajin.” Canda Kai sambil sedikit berjengit.
“Uumm… Tapi, apakah Ruki-san berencana untuk datang kemari?” Tanya Minoru langsung. Dia bukannya tidak sabaran, tetapi ia merasa sangat bertanggung jawab atas tugasnya menyerahkan pesanan dari Ruki sehingga harus segera dituntaskan.
“Eh, Ruki? Ngg… Aku tidak tahu juga. Aku kan hanya iseng saja datang kemari.” Lagi-lagi Kai menebarkan senyum mautnya.
“Oh, begitu…”
“Eh, memangnya ada apa, Minoru? Sepertinya penting sekali.”
“Anoo… Kemarin Ruki-san meminta saya untuk membeli sebuah kalung dan harus diserahkan hari ini.” Katanya seraya menunjukkan sebuah kotak yang dibawanya.
“Wah, kotaknya manis sekali! Ini pasti untuk Reita!”
“Ha…? Untuk Reita-san? Ta..tapi… Kalung ini kan…” belum sempat Minoru menyelesaikan kalimatnya, Kai sudah merebut kotak itu.
“Fufufu… Aku tahu, aku tahu. Biar aku saja yang menyerahkan ini ke Ruki. Kau pulang saja ya!” ucap Kai sambil nyengir.
“E..eeh…? Ta..tapi..tapi..”
“Ssstt…. Masih banyak hal yang belum kau pelajari, Minoru-kun~” Kai pun berlalu menuju drumset kesayangannya, meninggalkan Minoru yang kebingungan dengan kata-kata penuh syarat dari Kai.
Satu pelajaran lagi yang didapat namun belum bisa dipastikan kebenarannya adalah: Ruki menyukai Reita (?).

***

Jantung Ruki berdetak kencang. Menandakan bahwa ia sedikit nervous. Sebab hari ini adalah hari H-nya. Tadi pagi, ia sampai bangun kesiangan. Tidurnya dirasa kurang nyaman dan kurang lama. Entah karena kelelahan atau karena ini adalah hari ulang tahun ‘dia’. Fuuh, mungkin juga gara-gara keduanya.
Sampai sekarang Ruki masih menggerutu pada dirinya sendiri. Kenapa harus setegang ini? Padahal ditahun-tahun sebelumnya ia biasa saja merayakan ulang tahun Reita. Dengan mengundangnya datang ke apato Ruki, lalu memasakkannya spaghetti yang menjadi spesialisasi Ruki, rasa sudah cukup membuat Reita senang. Owh, tidak lupa juga ucapan ‘otanjoubi omedettou’ dan sebuah ciuman di pipi. Ups, ciuman? Ya, memang seperti itulah. Malah bisa dibilang hal itulah yang bisa menyunggingkan senyum di wajah cool(kas) Reita.
Namun itu dulu. Saat mereka masih berusaha meniti karir yang mereka bangun dari tingkat yang benar-benar dasar. Ruki sendiri menyadarinya. Kedekatan mereka semakin lama semakin memudar. Reita makin segan untuk mendekati Ruki, sementara Ruki sendiri makin kurang perhatian pada Reita. Alasan sederhananya sih bisa dibilang karena pekerjaan. Ya, akhir-akhir ini the GazettE memang sedang naik daun. Apalagi setelah kesuksesan mereka melaksanakan konser di Tokyo Dome yang benar-benar mengundang perhatian fans-fans mereka di seluruh dunia. Tapi apakah itu bisa dijadikan alasan kerenggangan hubungan mereka? Pertanyaan itu masih belum ditemukan jawabannya karena mereka memang tidak sempat untuk membicarakan hal-hal semacam itu.
“Hhh… Minoru sudah mendapatkannya atau belum yah?” gumam Ruki yang saat itu sedang terduduk dipinggiran tempat tidurnya.
Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Minoru.
“Moshi moshi?” jawab Minoru diseberang telpon.
“Anoo… Bagaimana kalungnya?”
“Iya, saya sudah membelinya kok. Tadi sudah saya bawakan ke studio, tapi ternyata Ruki-san tidak ada.”
“Eh, kau meletakkannya begitu saja di studio??”
“Tidak,tidak. Tadi Kai-san juga datang ke studio, dan sekarang dia yang menyimpannya.”
“Oh begitu. Iya, iya, terima kasih ya!”
Setelah dimatikan, Ruki men-dial nomor Kai. Diseberang sana, Kai yang sedang berkutat dengan drumset-nya langsung tersenyum-senyum kecil begitu ia melihat nama Ruki terpampang di handphone-nya.
“Ya?” jawabnya setengah bercanda.
“Ngg… Jadi apa kau masih menyimpan….”
“Ya,ya… Aku tahu. Kado darimu itu kan? Tentu saja masih kusimpan.” Belum sempat Ruki menyelesaikan kalimatnya, Kai memotong begitu saja.
“Ooh… Ya sudah, baguslah. Kalau begitu aku akan segera kesana untuk mengambilnya.”
“Yosh! Datang saja.”
“Ngg… Iya. Jaa~”
Klik! Sambungan pun diputuskan.
“Oke… Jadi…” Kai celingak-celinguk mencari sesuatu.
“Tadi kotaknya kuletakkan dimana yah…?”

***

Sekitar 15 menit kemudian, Ruki sudah bersiap untuk berangkat ke studio. Seperti biasa ia menggunakan setelan hitam yang dilengkapi dengan kacamata hitam koleksinya untuk sedikit menyamarkan identitasnya. Ruki baru berjalan beberapa meter dari apato-nya ketika tiba-tiba ia menabrak seseorang karena jalannya yang agak menunduk.
BRUK! Ruki pun terjatuh ke belakang sebab badannya lebih kecil dibandingkan orang yang ditabraknya.
“Kyaa!” pekiknya.
“Eeeh?? Ma…maaf, maaf! Anda baik-baik saja??” ujar orang itu terbata-bata.
Tunggu dulu. Ruki kenal suara berat itu.
“Ngg… Reita?” ujar Ruki sambil mendongak.
“Ah, ternyata kau, Ruki! Maaf ya…” Reita pun membantu Ruki berdiri.
Dengan agak canggung, Ruki berdiri lalu membersihkan celananya dari debu jalanan. “Ngg… Arigatou…”
“Eh, kau mau kemana? Sepertinya buru-buru sekali.”
“Ke studio. Mau mengambil…. sesuatu…”
“Oh.” Reita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Anoo… Kalau nanti malam kau ada acara tidak? Interview atau photoshoot gitu?”
“Ngg… Tidak. Kemarin kan kita sudah lembur.”
“Bagus! Eeh.. Ma..maksudku, yaa begitulah…”
Ruki menangkap sedikit rasa senang dari Reita. Dia tahu, Reita pasti sangat senang kalau Ruki mau ikut memeriahkan hari istimewanya. Kebetulan juga Ruki sedang bingung menentukan kapan waktu yang tepat untuk menyerahkan kadonya. Mungkin nanti malam adalah waktunya.
“Eheem… Jadi, nanti malam kau bisa datang ke apato-ku kan? Teman-teman yang lain juga datang lho.”
“Hee? Yang lain juga datang??”
“Iya, tentu saja. Memangnya kenapa?”
“A..aah.. Ti..tidak. Aku senang kok… Haha…” Ruki tertawa memaksa.
“Ooh. Iya, pasti seru! Jangan sampai kau melewatkannya yah! Jaa~” ujar Reita yang kemudian berlalu begitu saja.
“E..eeh. Iya…” jawab Ruki yang masih sedikit termenung.
Oke Ruki, kau tidak usah berpikir yang macam-macam sekarang, gumamnya dalam hati.
***
Sementara itu, di studio….

“Dimana kuletakkan kotaknya???”
Kai sedang mengutuk dirinya sendiri dan penyakit pikun stadium akhir-nya. Padahal benda itu masih dipegangnya sekitar 20 menit yang lalu tapi sekarang langsung lenyap begitu saja. Seharusnya Kai bisa mengantisipasi hal semacam ini dan lebih berhati-hati dalam membawa barang orang lain. Sebab sudah berkali-kali barang yang ada didekatnya  menghilang entah kemana meskipun ia sudah berusaha agar tidak kelupaan. Hhh…
“Aduuh… Apa yang harus kukatakan pada Ruki nanti??”
“Sumimasen….” Terdengar suara Ruki bersamaan dengan suara derit pintu terbuka. Oh… Sungguh waktu yang sangat tepat.
“Matilah aku.” Gerutu Kai dengan nada rendah pada dirinya sendiri.
“Kai? Ah, disitu kau rupanya.” Ujar Ruki yang baru saja memasuki ruang studio.
“Ooh… Hai, Ruki. Cuacanya cerah yah? Hahaha…” Kai tertawa memaksa namun senyum andalannya tetap bisa mempesona setiap orang (jaahh…).
“Ngg…. Ya begitulah. Jadi, mana…?” tanya Ruki seraya mengulurkan tangannya seperti meminta sesuatu.
“Eh, apa yah…?” Kai pura-pura tidak tahu.
“Jangan bercanda sekarang, Kai. Aku serius nih. Mana pesananku yang dibawa Minoru tadi?”
“Oohh itu! Ya,ya.. Tadi memang Minoru sempat datang kesini dan membawa sesuatu. Katanya sih kado darimu untuk Reita. Lalu kubilang saja biar aku yang membawanya, dan kusuruh dia pulang. Kemudian kau menelpon, sementara aku sedang men-set drum-ku, jadi sekarang aku sedang mencari dimana kotak itu dan…”
“Kai,” Ruki langsung memotong. “Jangan bilang kau menghilangkannya…”
Hening sejenak. Jangkrik pagi melintas. Kai seakan sedang berusaha memikirkan basa-basi apa yang sekiranya bisa mengalihkan perhatian Ruki akan kotak itu. Yah, misalnya basa-basi seperti, ‘Ah, kau terlihat kurus hari ini!’, tapi nanti Ruki pasti bisa langsung menebak kalau ia sedang berbohong (plaak..). Ckckck… Sungguh, rasanya Kai ingin bertekuk lutut dihadapan Ruki dan memohon ampun yang sebesar-besarnya sekarang. Uum, oke, itu tindakan yang terlalu di dramatisasi.
“Anoo…” Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Bisa dibilang aku tidak ingat dimana kotak itu berada…”
“KAI!” pekik Ruki dengan pelan dicampur dengan tarikan nafas panjang. “Bagaimana bisa kau…”
“Maaf, maaf! Maafkan aku! Aku akan mencarinya sekarang!” Kai segera beranjak dari tempatnya berdiri dan mencari-cari kotak itu.
Ruki masih agak terkejut. Sudah tidak ada waktu lagi. Harus cepat membeli yang baru sebagai penggantinya.
“Kai…” panggilnya.
“Ya?” Kai menoleh.
“Lebih baik kau menemaniku belanja sekarang!”
Ruki pun langsung menarik lengan Kai yang masih kebingungan.

***
Your smile, your voice through the phone,
Your small body that cannot handle the crowd,
And even the bad habits, they are all unique and splendid
All of it is the one and only

Mungkin pesta itu bukan pesta besar-besaran. Mungkin juga pesta itu tidak mengundang terlalu banyak orang untuk datang. Tapi pesta itu cukup meriah dan sangat terasa ‘kehangatan’nya. Di apato Reita yang bisa dibilang cukup sederhana dan agak luas inilah kebahagian itu tertuang. Perayaannya juga tidak semewah perayaan ulang tahun anak-anak remaja yang baru menginjak umur 17 tahun. Tidak ada dekorasi yang menghias dinding ruangan ataupun musik yang mengiringi acara tersebut. Yang tersedia hanyalah sebuah kue ulang tahun yang bertabur cokelat dan krim sebagai simbolis dari sebuah pesta ulang tahun, serta beberapa botol wine dan vodka yang menandakan bahwa acara tersebut dihadiri oleh orang-orang dewasa yang sudah berkarir dan memiliki emosi yang cukup stabil untuk bisa meminumnya (halah).
“Yaak! Sekarang saatnya untuk memotong kuenya!!” teriak Aoi sambil bertepuk tangan yang kemudian diikuti oleh seruan orang-orang yang hadir disana.
Reita pun memotong kue itu, lalu meletakkan satu bagian yang telah dipotongnya ke sebuah piring plastik kecil.
“Hayoo… Siapa orang beruntung yang akan mendapatkan potongan pertamanya…?” goda Uruha dengan tampang usil seraya menyikut lengan Reita.
“Owh, diamlah.” Sergah Reita. “Ini.”
Reita memberikan potongan tersebut ke seseorang. Orang yang dituju Reita terlihat sedikit terkejut. Siapakah dia? Ya, tak lain dan tak bukan adalah…
“POTONGAN PERTAMA JATUH PADA RUKI!!” seru Aoi tanpa dosa.
“Eeh? Aahh…” Ruki hanya bisa tergagap.
“WAAAHHH~”  suasana pun mendadak jadi riuh dan penuh keromantisan.
Reita hanya bisa menghela nafas panjang. Sementara itu, wajah Ruki memerah. Entah karena malu, atau senang bukan kepalang. Yang pasti dia tersenyum dengan manisnya gara-gara tingkah teman-temannya itu.
“Nah, sekarang, ayo dibagi kuenya!”
Reita pun mulai sibuk memotongkan kue tersebut untuk teman-temannya itu. Sementara itu, Ruki sedang menikmati potongan pertamanya disebuah sofa yang agak panjang. Sesaat kemudian Kai menghampirinya dan langsung duduk tanpa permisi di sebelah Ruki.
“Hei,” panggil Kai.
“Hm?” jawab Ruki tanpa menoleh dan terus memakan kuenya.
“Kau yakin mau menyerahkan ‘itu’…?”
“Hu-um. Tentu saja. Memangnya kenapa?”
“Ngg… Tidak sih. Cuma ingin bertanya.” Mereka lalu terdiam selama beberapa detik. Kemudian Kai melanjutkan. “Anoo… Aku masih merasa bersalah.”
“Hmm… Tidak apa kok. Itu kan cuma kado. Lagipula aku sudah punya ‘itu’ kan?” kali ini Ruki menatap Kai sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
“Ooh… Iya.” Jawab Kai ragu.

***
Malam semakin larut. Para tamu yang menciptakan suasana riuh di apato Reita tadi sudah pulang dan mungkin sudah terlelap. Mereka tidak bisa terus berpesta sampai pagi sebab mereka sudah dijadwalkan untuk kembali ke rutinitas masing-masing mulai besok. Tapi Reita belum bisa langsung tidur begitu saja mengingat tempat tidurnya penuh dengan kado dari teman-temannya. Daripada cuma digeser dan ditelantarkan begitu saja, Reita pun memutuskan untuk membuka kado-kado tersebut. Lagipula, saat ini dia tidak sedang sendiri. Ada seseorang yang masih berada di apatonya dan sepertinya tidak punya niat untuk pulang.
“Kenapa sih kau tiba-tiba ingin menginap?” tanyanya pada sosok imut disebelahnya yang sedang duduk bersila diatas kasurnya.
“Me…memangnya kenapa..? Kau saja sering menginap di apato-ku, masa aku tidak boleh?” jawab Ruki sambil mencibirkan bibirnya dengan kesal.
“Hhh… Terserah kau saja.”
Reita kembali berkutat dengan kado-kadonya. Ia sudah membuka beberapa diantaranya. Ada sekotak KitKat ukuran besar dari Uruha, ada DVD One Piece dari Aoi, dan beberapa gelang metalik dari Kai. Hhmm… Semuanya pas, pikirnya. Yah, teman-temannya itu memang sudah tahu apa saja kesukaannya. Sembilan tahun sudah dilalui bersama, pastinya mereka sudah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Tapi, ia merasa masih ada satu hadiah lagi yang tertinggal. Ia mengaduk-aduk sobekan kertas kado yang menutupi kado-kado lainnya. Ia sedang mencari satu kado lagi yang sangat istimewa baginya. Ia terus mencari, membaca nama pengirimnya dengan teliti satu persatu.
Mana kado dari Ruki…?
“Hei,” panggilan dari Ruki membuyarkan konsentrasinya. “Ini untukmu.”
Ruki menyodorkan kadonya yang berukuran agak besar. Kado itu berbentuk seperti bungkusan yang biasa kita terima ketika membeli McD untuk dibawa pulang. Hanya saja kertasnya tidak cokelat dan berlabel seperti itu, kertas yang ini berwarna biru langit. Bagian atasnya terlipas dengan rapi dan dihiasi simpul bunga dari pita kertas. Terlihat sangat simple, tapi membuat Reita penasaran akan isinya. Sebab saat Reita menerimanya, kado itu terasa sangat ringan.
“Apa ini?” tanyanya.
“Ya dibuka dong! Mana bisa tahu kalau cuma menebak.”
Reita menurut. Dengan hati-hati dia membuka kado itu. Setelah bagian atasnya terbuka, ia merogoh isinya dan mengeluarkannya. Ternyata itu adalah…
.
.
.
Sebuah boneka lumba-lumba berwarna pink.
.
.
.
“Ruki…?”
“Ya…?” Ruki menatap Reita dengan tatapan tidak berdosa dan senyum manis.
“Memangnya aku anak perempuan?”
Ruki kembali mengerucutkan bibirnya. “Ha…habisnya aku tidak tahu mesti memberi apa. Lagipula boneka itu lucu!”
“Hhh… Ini sih kesukaanmu, Ru.” Ujar Reita seraya mematuk-matukkan moncong boneka lumba-lumba itu ke kening Ruki.
“Go…gomen ne~” Ruki pun menunduk malu untuk menutupi mukanya yang memerah.
Reita gemas sekali melihat Ruki seperti itu. Ia hanya bisa tersenyum geli. Jujur, sebenarnya dia sangat merindukan kedekatan mereka seperti ini. Ternyata sifat Ruki sama sekali tidak berubah. Masih tetap seperti dulu, bahkan lebih manis.
“Ya sudah, tidak apa. Aku senang kau memberi sesuatu. Terima kasih ya!” setelah Reita mengucapkan itu, ia langsung mencium pipi Ruki sekilas.
Tunggu,tunggu! Apa itu tadi?
Ruki terkejut. Nafasnya tertahan sejenak. Benarkah yang dirasakannya tadi?
Bahwa Reita baru saja mencium pipinya…


“Hhh… Aku sudah ngantuk nih. Tidur yuk.” Ajakan Reita membuyarkan lamunan Ruki.
“E..eeh… Apa..??”
“Hei, kau jangan berpikiran yang macam-macam ya.” Goda Reita sambil tertawa kecil.
“Heh? A..aku tidak berpikiran begitu!” Ruki memukulkan guling yang ada didekatnya ke dada Reita.
“Aduh! Aku kan cuma bercanda~” tawa Reita pun terlepas melihat tingkah Ruki.
“Su..sudah, diam!”
“Hahahaha~ Kalau begitu, ayo tidur.”
Ruki akhirnya menurut saja. Ia pun ikut terbaring disebelah Reita dan menarik selimutnya hingga sebatas dadanya. Reita juga sudah berbaring terlentang disebelahnya dan bersiap untuk menutup matanya.
“Ah, satu hal lagi.” Ucap Reita ditengah keheningan.
“Apa?”
“Jangan memelukku saat kau terlelap nanti. Aku bukan guling.”

***

TEK! Waktu menunjukkan pukul 8.50 pagi.
Matahari sudah bersinar cukup cerah. Segala aktivitas didaerah perkotaan sudah mulai berjalan seperti biasanya. Jalanan sudah penuh dengan orang yang berlalu lalang. Udara yang masih hangat dan segar membuat mereka bersemangat mengawali hari ini. Namun, yang namanya manusia pasti punya berbagai macam sifat dan kebiasaan. Masih ada beberapa diantaranya yang meringkuk dibawah selimutnya dan menunggu kesadaran mereka kembali. Tak terkecuali dua anak manusia yang saat ini sedang berada di apato Reita.
Sebenarnya Reita sama sekali belum berniat untuk bangun. Namun ada beberapa faktor yang membuatnya harus bangun saat itu. Pertama, sinar matahari yang cukup terik sudah menembus gorden berlapisnya sehingga memaksa matanya untuk terbuka. Kedua, ia ingat punya jadwal photoshoot dan interview hari ini. Pastinya dia harus kelihatan bugar dan fresh untuk menjalaninya. Faktor ketiga dan yang tidak bisa diabaikan adalah karena handphone-nya terus menerus berdering minta diperhatikan.

“Arrggghh… Siapa sih pagi-pagi begini menelpon??” Reita mengacak-acak rambutnya kemudian dengan terpaksa menjawab panggilan tersebut.
“Ya…?”
“Ngg… Reita-san? Maaf sudah mengganggu pagi-pagi begini.” Jawab seseorang dari seberang telepon. Yaitu, Minoru.
“Hhmm… Iya, iya. Ada apa memangnya?”
“Ada sesuatu yang ingin saya serahkan. Sekarang saya sudah berada di depan pintu apato Reita-san.”
“Ah, begitu. Tunggu sebentar yah.”
Setelah memutuskan sambungan telpon, Reita segera beringsut dari kasurnya. Ia lalu teringat pada orang disebelahnya yang sejak tadi malam menginap di apato-nya. Saat ditoleh, ternyata Ruki masih tertidur dengan lelapnya. Dengkurannya sangat pelan, namun masih bisa sedikit terdengar. Wajahnya yang bersih dan tersorot sinar matahari membuat Reita merasa tenang. Benar-benar seperti anak kecil, pikirnya.
Reita tidak berlama-lama mengagumi wajah innocent itu, sebab ia masih ingat ada seseorang yang menunggunya didepan pintu apato-nya. Dengan segera ia membuka kunci pintu tersebut dan mendapati Minoru yang sedang berdiri didepannya.
“Ohayou, Reita-san.” Sapa Minoru.
“Ngg… Ohayou.”
“Ini. Titipan dari Ruki-san untuk Reita-san. Saya menemukannya di studio, sepertinya ia lupa mengambilnya.” Bersamaan dengan itu, Minoru menyodorkan kotak yang terbalut pita biru itu.
“Eh, apa ini?”
“Entahlah. Saya tidak berani membukanya.”
“Ooh begitu. Ngg… Terima kasih ya.”
“Sama-sama. Saya permisi dulu, Reita-san. Jaa~” Minoru pun segera pergi.
Setelah Minoru pergi, Reita langsung mengobservasi kotak tersebut. Kelihatannya isi kotak itu sangat istimewa. Tanpa membuang banyak waktu, Reita duduk di sofa berlengannya dan membuka kotak itu dengan hati-hati. Ternyata isinya adalah sebuah kalung. Apakah terkesan biasa saja? Hhmm, sepertinya tidak bagi Reita.

Kalung itu berbentuk hati yang utuh. Namun bisa terbelah menjadi dua bagian dan bisa dipakai untuk dua orang. Mungkin kalung ini sudah sering dilihatnya diiklan-iklan perhiasan, atau dorama-dorama melankolis tentang sepasang kekasih. Akan tetapi, makna dari kalung yang diberikan oleh Ruki inilah yang membuatnya sangat istimewa. Bahwa meskipun mereka sering terpisah dan jarang bertemu, tapi hati mereka tetap satu.
Saat menatap kalung itu, Reita tersenyum senang. Ternyata Ruki masih sangat peduli padanya. Ia pun langsung memakai salah satu bagian dari kalung tersebut. Satu bagian lagi ia bawa ke kamarnya dimana Ruki masih terlelap. Secara perlahan dan sangat hati-hati ia mengalungkan bagian satunya itu ke leher Ruki. Saat melakukannya, ia sedikit mengangkat kepala Ruki yang membuat anak manis itu sedikit merengek. Reita hanya tersenyum geli mendengarnya. Setelah berhasil, Reita mengusap-usap kepala Ruki lalu mencium keningnya.
Thank you, my dear…” bisiknya pelan.


I think there'll be nights when we get hurt
I think there'll also be feelings we can't share
Let's begin a new romance while climbing over those
Once more.

Kalung pemberian Ru-neechan yang ada di imajinasi saya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar