Selasa, 10 Mei 2011

Friend? Brother? Or...? chap.2/???

Title: Friend? Brother? Or...? chap.2/???
Author: Ruki Yutaka
Rating: PG-13? Kehidupan sekolah lah.... :)
Genre: Humour, Romance, Angst
Fandom(s): The GazettE, Alice Nine, Versailles, Kra, dll...
Disclaimer: All the casts aren't mine.... I just kidnapped them! bwahahaha~
Author's note: Yang inget fanfic saya, angkat tangan!! *ditimpuk botol aqua*

(Chapter 1)


Siang itu sekolah sudah sepi. Murid-murid sudah berpulang ke rumah masing-masing. Sekarang hanya tinggal segelintir orang saja yang masih berada di sekolah, termasuk Ruki. Ia bersama murid-murid terpilih lainnya memang selalu rutin menemui Teru-sensei untuk mendapatkan pelajaran tambahan Biologi. DIM high school memang seringkali mengikuti olimpiade akademik. Maka dari itu mereka memberi semacam les tambahan ke murid-murid yang terpilih sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.


Ruki yang baru saja selesai mengikuti les tambahan Biologi dari Teru-sensei akan bersiap-siap pulang. Biasanya diakan berjalan kaki hingga ke halte dan naik bus untuk bisa pulang. Namun, saat di baru keluar dari pintu gerbang sekolah, seseorang mencegatnya.
“Hei, Ru!”
Ruki menoleh. Ternyata itu Reita dengan motor Harley-nya.
“Baru pulang? Sendirian yah?” tanya Reita sambil mematikan mesin motornya sementara dan melepas helmnya (gak termasuk nosebandnya) :p.
“Ah ya, aku tadi ada urusan dengan Teru-sensei soal pemantapan Biologi. Kamu sendiri? Kok jam segini masih disekolah?”
“Ah, biasa.... Latihan sepak bola... Pertandingan antar sekolah kan sudah dekat.”
“Oh, iya.....”
Mereka lalu diam sejenak. Ruki terus menatap kebawah, sementara Reita hanya menggaruk-garukkan kepalanya.
“Nngg~ Ano... Mau pulang? Aku antar ya?” Reita memulai pembicaraan.
 “Eeh... Ti..tidak usah... Lagipula, arah kita berlawanan....”
“Aaah, Cuma beberapa meter jauhnya…. Ayo naik!” Reita sudah kembali memakai helm dan menyalakan mesin motor.
“Eehh.... Demo....”
“Sudahlah~ Ayo, naik!”
Akhirnya dengan terpaksa, Ruki naik ke motor Reita dengan jantung yang berdegup kencang. Selama perjalanan, Reita selalu memegang tangan Ruki yang melingkar di pinggangnya. Hal itu membuat jantung Ruki semakin ingin terpisah dari tubuhnya.

***

Sesampainya dirumah Ruki....
“Terima kasih, Rei....” ujar Ruki dengan wajah yang memerah.
“Hei, kenapa mukamu? Sakit?”
Wajah Ruki makin memerah. “Eehh... Ti...tidak.... A..aku... Ini...” ucap Ruki terbata-bata. Matanya terus tertunduk kebawah.
Lalu, Reita tertawa. Tawa yang indah bagi Ruki.
“Tau gak? Kalo kamu begitu terus, kamu bisa membuatku makin jatuh cinta....”

DEG! Kata-kata Reita yang terakhir terdengar agak samar-samar ditelinga Ruki. Tapi Ruki yakin kalau dia baru saja mengatakan bahwa......

“A..apa?”
Reita tertawa kecil. “Kamu bikin aku jatuh cinta, Ru. Hehehe.... Aneh ya? Tak usah dipikirkan deh.....”
Reita segera memakai helmnya dan berniat menyalakan motornya. Saat ia baru saja akan menyalakannya, Ruki mencegatnya.
“Tu...tunggu, Rei!” Reita pun berhenti dan menatap Ruki. Ada sejuta perasaan yang tersimpan dimata itu.
“Aku.... Aku juga.....”
“Kau juga?” Reita membelalak tak percaya. “Apa itu artinya ‘iya’?”
Untuk sesaat, Ruki diam. Lalu, dengan malu ia sedikit mengangguk. Kelihatan meragukan memang. Tapi itu cukup buat Reita.
“Terima kasih. Kamu manis sekali.”
Dengan itu, Reita pun melesat pergi. Meninggalkan Ruki yang tersenyum amat manis. Senyum yang belum pernah ia tampaknya sebelumnya. Senyum yang lepas bersamaan dengan perasaan yang selama ini dia pendam....

***

Keesokan harinya, dikelas 12 A suasana masih agak sepi dan baru beberapa siswanya yang datang untuk melaksanakan piket pagi. Untuk hari ini, Miyavi kebagian jatah piket. Meski malas, tapi dia masih punya rasa tanggung jawab. Jadi deh, dia datang lebih dulu untuk piket. Tapi, yah, memang dasar Miyavi. Meski sudah datang pagi, namun dia malah duduk-duduk dibangku dan tidak melaksanakan piket.
“Hoooaaahhhmmm!” untuk yang ke sekian kalinya, dia menguap.
“Oooii, Meev! Sadar dong, kamu udah disekolah nih! Tidur aja kerjamu...” seru Hiroto yang melintas didepannya sambil bawa-bawa sapu. Eeits, bawa-bawa aja lho, nyapunya asal-asalan aja.
“Iya,iya tau.... Masih untung aku gak bawa bantal-gulingku kesini....” akhirnya dengan malas Miyavi bangkit dari duduknya dan mengambil lap serta spray pembersih kaca.
Miyavi memulainya dengan membersihkan kaca dari bagian depan kelas. Saat dia baru saja mulai, ia melihat seseorang yang tak asing baginya sedang berjalan menuju kelasnya.
Mata Miyavi membelalak. Ia tidak bisa mempercayai apa yang sedang dilihatnya. Dari jauh sepertinya dia kenal orang itu. Tapi tidak mungkin. Miyavi mengucek matanya. Mungkin Hiroto benar, dia belum sadar sepenuhnya. Untuk lebih meyakinkan, Miyavi mencubit pipinya. Sakit. Berarti ini nyata. Dan berarti benar bahwa orang yang sedang berjalan di lorong menuju ke kelasnya pagi ini adalah......
“REI-CHAN???” lengking Miyavi seperti seorang fans yang melihat bintang idolanya.
Kontan saja semua orang dikelas menoleh. Semuanya juga memasang tampang ‘sumpeh lo?’.
“Duuhh... Nggak usah histeris gitu kenapa? Dunia nggak bakal kiamat Cuma gara-gara aku bangun pagi kan?” gerutu Reita dengan bete. Dan lebih bete lagi karena Miyavi memanggilnya dengan nama ‘Rei-chan’.
“Tapi, tapi..... Ini belum bel masuk kan...?” ucap Nao, sang ketua kelas, tanpa perasaan.
Reita hanya memutar bola matanya dan berjalan masuk ke kelas. Dengan malas, dia berjalan menuju bangkunya (banyak sekali karakter pemalas disini.. XD). Ia melewati teman-temannya yang kepalanya masih pada penuh dengan pertanyaan, ‘Ada angin apa neh??’. Tapi melihat tampang kusut dan bete dari Reita, semuanya memilih bertanya dalam hati saja.
Masih dalam kondisi setengah shock, Miyavi lebih memilih melanjutkan pekerjaannya. Apalagi mood Reita seperti sedang tidak enak untuk diajak ngobrol. Bisa dilihat dari tampang ‘ingin membunuh orang’-nya. Tidak lama kemudian, Ruki datang. Mukanya sumringah seperti biasa.
“Pagi, Meev.” Sapanya.
“Eh... Oh, pagi.”
“Kamu rajin seperti biasanya ya.... Hahahaha....”
“Rajin katamu? Yang benar saja....” Miyavi pun menghentikan pekerjaannya. Emang sih dia sudah selesai. 2 sekawan itu lalu memasuki kelas, dengan Ruki yang masuk mendahului Miyavi.
“Pagi, semuanya.” Sapa Ruki lagi.
“Pagi!!” jawab teman-temannya yang lain. Suara Hiroto dan Keiyuu yang terdengar mendominasi disitu. Yah, memang, dikelas, 2 boncel itu yang terlihat paling bersemangat diantara yang lain (digebukin fans Hiroto dan Keiyuu).
Ruki kemudian berjalan menuju bangkunya. Disanalah dia melihat seseorang yang tidak asing, tapi tidak mungkin ada disitu sekarang.
“Eh? Reita?”
Dan Reita hanya bisa menghembuskan nafas panjang.

***

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para murid dengan cepat dan sigap berhamburan keluar sekolah, sangat kontras dengan keadaan mereka pada pagi hari sebelumnya (ngerti maksudnya kan? XD). Namun, masih ada saja beberapa anak yang meneruskan kegiatannya disekolah. Ada yang hanya sekedar menongkrong dihalaman, sampai yang melaksanakan latihan untuk pertandingan sepak bola antar sekolah nanti. Contohnya, yaitu Reita, si berandal yang tak pernah melepaskan plester hidungnya (noseband maksudnya..).
Akan tetapi, sepertinya hari ini niat baiknya untuk datang tepat waktu kurang mendapat restu dari Yang Maha Kuasa (bahasa gue… XP). Karena sesampainya Reita dilapangan, ternyata tak ada seorang pun disana. Lapangan itu kosong melompong, tidak ada tanda-tanda manusia yang mendatanginya.
“Lho? Masih kosong toh? Aku kira telat lagi....”
Akhirnya, Reita memutuskan untuk menunggu saja. Ia mencari tempat teduh dipinggir lapangan dan duduk disana.
Tak lama berselang, melintaslah Uruha. Saat itu, ia berniat akan pulang. Sewaktu ia melihat ada seseorang sedang duduk dipinggir lapangan sepak bola, ia pun teringat akan pesan Tora, si kapten sepak bola, saat berpapasan dengannya tadi. Ia pun menghampiri orang itu yang ternyata adalah Reita.
“Hei...” sapa Uruha.
Reita yang sedang asyik memainkan handphonenya terkejut. “Oh, hai, Uru... Belum pulang?”
“Aku baru mau pulang. Eh, ngomong-ngomong, tadi aku bertemu Tora. Dia bilang ia membatalkan latihannya hari ini.”
“Eh? Kenapa?”
“Maaf. Dia hanya menyampaikan itu..”
“Ah, dasar orang itu..” gerutu Reita. “Hhhmmm..... Kalau begitu, kita pulang saja yuk...”
Saat Reita sedang sibuk memasukkan handphonenya dan berniat pergi, Uruha pun mencegatnya duluan.
“Eh, Rei.... Bisa bicara sebentar?” ujarnya ragu-ragu.
“Hhmmm? Iya, ada apa?” tanya Reita sambil memperbaiki posisi duduknya dan menatap Uruha lekat-lekat.
“Ano.... Ada yang ikut kukatakan padamu...” jawab Uruha.
Didalam hatinya, Uruha sedang bertarung. Ia harus mengatakan hal ini sekarang. Sekarang adalah kesempatannya. Ia tidak bisa menahannya lagi. Sudah terlalu lama ia memendamnya. Ia juga tidak tahan kalau melihat Reita bersama orang lain, meski dengan Ruki sekalipun. Ia selalu berusaha berpikir positif akan hal itu. Ia tidak peduli Reita akan merespon apa. Yang jelas, ia hanya ingin Reita tahu bahwa hatinya hanya untuk Reita. Bahwa dirinya tidak bisa berpaling sebesar apapun usahanya. Karena itulah, ia harus mengatakannya, sekarang....
“Aku.... suka kamu....”



TO BE CONTINUED....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar