Jumat, 27 Agustus 2010

Sebuah cerpen.....

1 FRIEND REQUEST
Originally by: Nurafida Kemala Hapsari




“Uuughh!! Sial!!” keluhku saat memasuki kamar.
Kubanting pintu kamarku hingga menutup dengan sendirinya. Lalu kulemparkan tas sekolah tanpa belas kasihan ke… ah, entah kemana itu. Namun, saat aku berpaling, ada sesuatu yang melintas di kepalaku. Sesuatu yang amat penting. Dahiku pun mengernyit. Dan aku pun teringat…
“Oh My God! Laptopku!” ujarku panik, kemudian mengambil tasku kembali, dan mengaduk-ngaduk isinya, mencari laptopku.
Yah, laptop kesayanganku. Yang kudapat dihadiah ulang tahunku tahun lalu. Model terbaru, yang harganya bisa membuatku krisis ekonomi selama 3 tahun. Tapi tidak bagi ayahku. Tentunya aku sangat senang. Sejak saat itu, laptop tersebut masuk ke daftar jiwaku. Hhnn… Untung tidak rusak. Kalau sampai rusak, wah, sempurnanya hidupku….
“Thanks God… Apa jadinya hidupku tanpamu?” bagai orang depresi yang ditinggal orang yang disayanginya, aku memeluk laptop itu dan mengelusnya.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kamarku diketuk. Dari luar terdengar suara kakakku.
“Ooii, kenapa tuh? Kamarnya utuh nggak?”
“Hhhmm… Masuk aja lah…”
Dari ambang pintu, muncullah kepala kakakku. Ia melihat-lihat keadaan sekitar bagai agen rahasia yang ingin mencari jalan keluar. Lalu matanya tertuju padaku. Seakan mempelajari musuhnya, ia memandangku dalam-dalam.
“Apa sih? Masuk aja kenapa?”
“Bagus! Udah normal!” katanya riang. Kemudian masuk ke kamarku seenaknya.
Begitulah kakakku, Dio. Usil, tapi perhatian juga. Umurku dengan umurnya terpaut amat jauh. Sekarang aku masih kelas satu SMA, sementara dia sudah hampir menyelesaikan kuliah S1-nya. Kata teman-temannya, di kampus pun dia selalu jahil dan melakukan sesuatu seenak perutnya. Tapi dia pandai bergaul dan punya banyak teman yang selalu membantunya.
Yah, itulah sekilas tentang kakakku. Aku tidak begitu suka memujinya banyak-banyak. Apalagi disaat seperti ini…
“Kenapa, neng? Mukanya hancur gitu. Cerita dong!” katanya sambil menjatuhkan diri di kasurku.
“Nggak kenapa-kenapa. Seperti biasa lah. Masalah anak sekolahan.”
“Hmm? Ngelihat hal-hal aneh itu masalah anak sekolahan ya?”
Nah, ini dia. Masalah pribadiku.
Kata orang tuaku, aku ini berbeda. Kata mereka, aku punya sixth sense.

Sixth sense… Apa hebatnya itu? Sampai sekarang aku tidak tahu indera tambahan apa yang aku punya. Yang kudengar dari ibuku hanyalah semenjak kecil aku selalu terlihat berbicara sendiri dan tertawa sendiri. Dalam hati aku berkata, seperti orang gila saja. Padahal waktu itu ‘kan aku sedang bermain bersama Yolan, sahabatku. Hhhnn… Yolan… Entah dimana dia sekarang.
Semenjak itu, orang tuaku selalu memperlakukanku dengan hati-hati. Seakan berusaha melindungiku dari segala sesuatu. Ya, aku tahu salah satu tugas orangtua adalah melindungi anak mereka. Tapi, rasanya perlindungan yang satu ini terkesan… berbeda. Masa ada sih orangtua yang bertanya ke anak mereka apakah sahabatnya itu nyata dan tidak berbahaya? Pertanyaan apa itu? Rasanya semua temanku sama saja. Berwujud, dan bisa dilihat. Hal seperti itu terkadang membuatku risih.
Dan sekarang, kakakku sendiri menanyakan hal itu. Rasanya darah diseluruh badanku ini mendidih. Kalau saja aku tidak belajar ilmu kesabaran sejak kecil, sudah kubekap kakakku yang usil ini dengan bantal.
“Nggak ada hal lain yang bisa dibahas?” tanyaku dengan senyum manis dibuat-buat.
“Makanya jawab dong. Ada apa? Pulang-pulang mukanya udah kayak mau bunuh orang.”
Yah, dan aku pun menceritakan hari sialku disekolah. Mulai dari guru yang marah-marah karena kelasku ribut, sampai menumpuknya tugas-tugas yang diberikan guru-guru itu. Belum lagi, senior ekstrakulikuler paskibra yang aku ikuti ngomel-ngomel tentang… apa ya? Tak tahulah. Aku baris paling belakang sih. Dan bla bla bla lainnya.
“Wow, beruntung sekali kamu hari ini.” Goda kakakku.
“He-eh, makasih.” Jawabku masih dengan senyum buatan yang lebih mirip ringisan penderitaan daripada sebuah senyuman. “Sekarang bisa nggak kakak keluar? Aku mau ngerjain tugas nih.”
“Ya, ya, anak jenius. Tapi inget istirahat juga ya! Badanmu agak hangat tuh.”
He? Iya juga ya. Pantas saja daritadi aku merasa lemas. Aku bakal sakit lagi nih. Aduuh… Padahal besok ‘kan ada kerja kelompok. Hhnn… Hari Minggu pun aku tidak bisa tenang.
Setelah berganti baju dan makan siang, aku langsung kembali ke kamar dan membuka laptopku. Kupasang modem dan mulai mengaduk-aduk dunia maya untuk mencari materi tugasku. Iseng-iseng, kubuka Facebook-ku. Disana terpampang, “1 friend request”. Saat kubuka, muncullah nama, ‘Bintang diLangit’, tapi tanpa foto orangnya.
Nama yang kreatif, pikirku. Yah, kuterima saja. Setelah itu, aku pun kembali ke rutinitas biasa. Mengecek notifikasi, membalas wall, mengganti status, log out. Kadang-kadang aku mulai bosan membuka Facebook ini. Ditambah lagi, demamku yang makin parah. Aaarrgghh! Aku tidur saja dulu. Nanti malam saja dilanjutkan.

***

“Dina! Dina bangun! Sudah sore. Mandi dulu!”
Teriakan ibuku teredam bantal dan selimut. Astaga, sudah sore ya? Lelap sekali tidurku. Ah iya, gara-gara demam ini. Uuhh, makin parah saja jadinya. Aku pun beringsut bangun dan keluar kamar untuk bersiap-siap mandi.
“Ya ampun, kamu kenapa, Dina? Kok mukamu merah begitu?”
“Ah, nggak apa-apa, Ma. Cuma demam biasa.”
“Demam itu tidak biasa, sayang. Itu sakit namanya.” Kata Mamaku sambil menaruh tangannya dikeningku.
“Tapi akunya nggak apa-apa kok.” Rengekku. Aku tidak begitu suka dikhawatirkan berlebihan seperti itu. Tidak enak rasanya.
“Ya sudah, kamu tunggu dulu disini. Mama buatkan air hangat dulu, baru kamu mandi ya.”
Bibirku langsung membentuk senyum. Mataku membelalak senang. Hatiku berbunga.
“Oke, Ma.” Jawabku kalem. Sakit itu ada enaknya juga ya, kataku dalam hati.
Dan tanduk iblis pun mulai muncul dikepalaku.

***

CIIT! CIIT! CIIT!
Kicauan burung mengawali hari Minggu ini. Sinar matahari pagi menembus gorden dan memanaskan mukaku. Karena tak tahan aku pun terbangun. Jam 8.00. Masih ada waktu 5 jam lagi sebelum aku berangkat ke rumah Indah, temanku, untuk kerja kelompok. Hoaahmm… Badanku masih lemas. Semalam aku diperlakukan bak putri yang tak berdaya. Makan malamnya pun istimewa. Ralat, istimewa buat orang sakit. Yaitu, bubur dan sup. Tidurku pun tak bermimpi. Karena dicekoki obat penurun panas berbentuk kapsul merah muda yang rasanya sama dengan mimpi buruk.
Sekarang aku sudah terlanjur bangun. Tapi malas melakukan apa-apa. Yah, langsung saja ku ambil laptop kesayanganku. Lalu, bagai orang yang kecanduan internet, aku pun membuka kembali Facebook-ku. Kira-kira siapa ya yang rajin memeriksa Facebook-nya pagi-pagi begini?
Eeits, ada satu notifikasi. Dari si ‘Bintang diLangit’. Tertulis di wall-ku.

Hai, thanks for confirm…

Hhmm, Sama2… jawabku.
Setelah itu, aku mulai mengambil pekerjaan lain. Kubuka tab lain, dan kuketik Google. Kemudian mulai mencari-cari lagu, atau gambar-gambar band kesukaanku. Selang beberapa lama, aku kembali mengecek Facebook-ku. Si ‘Bintang’ itu menjawab.


Kamu mau jadi temanku kan?

Ha? Pertanyaan yang agak aneh. Sepertinya orang ini benar-benar kesepian ya. Aku yang suka membuat 2 muka ini pun membalas,

Iya dong boleh…
Hehe~ ^^

Sehabis itu, aku log out tanpa belas kasihan. Yah, semoga saja dia mengerti. Aku juga punya kesibukan lain. Yaitu, mandi dan sarapan.

***
“Aku sudah nggak apa-apa, Ma…”
“Tapi perasaan Mama nggak enak, sayang…”
Yah, itulah sekilas perdebatanku dengan Mamaku. Saat itu aku sudah duduk di atas motor dan memakai helmku, bersiap berangkat kerumah temanku, Indah.
“Hei, aku antar aja gimana?” Tanya kakakku, ikut-ikutan khawatir.
“Nggak usah. Nanti minta jemputnya susah.”
Tak ada lagi yang dapat membalasku. Suara deruman motorku meredam nasihat-nasihat Mama dan Kak Dio yang datang bertubi-tubi.
“Ya sudah, hati-hati kalau begitu…” ujar Mamaku.
Aku hanya memberi senyum sekilas sebelum akhirnya meluncur bagai pembalap professional. Meski hanya dengan motor skutik macam Vario ini.
Semuanya berjalan lancar-lancar saja. Memang sih, beberapa kali aku kena klakson orang-orang karena jalanku yang agak oleng.
Akh, ini lagi. Truk besar pengangkut pasir menghalangi jalanku. Mana aku tidak bisa menyalip lagi. Uuh, penderitaan…
Lalu aku melihat kesempatan itu. Ada sebuah celah dimana aku bisa menyalip kendaraan sial itu dan terbebas dari asap karbondioksida. Segera saja aku memasang ancang-ancang dan mulai berlomba dengan truk pasir itu. Jalurku memang agak berbahaya karena mepet dengan trotoar. Tapi aku lebih tidak ingin tersiksa oleh gas beracun campur terpaan pasir dari truk itu.
Namun saat aku sudah berada disamping truk itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi setelahnya.

***




“Hai.”
“Ng?”
Aku bingung. Ada seseorang yang menyapaku. Seorang pemuda. Kira-kira sebaya denganku. Atau lebih tua ya? Mukanya terlihat kalem. Tapi terkesan pucat. Saat ini aku sudah berada di trotoar jalan yang tadi. Kemudian, orang itu datang.
“Ada apa ini ya?” tanyaku bingung. Rasanya aku tidak semestinya berdiri disini.
“Ada kecelakaan disebelah sana. Dan kamu menepi.”
“Oh.” Jawabku singkat. Aku masih bingung.
“Kayaknya aku kenal kamu deh. Namaku Bintang.” Katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Bintang? Ah… Otakku mulai berjalan.
“Yang di FB itu ya?”
“Wah, pantas saja…”
Setelah selesai berjabat tangan, kami terdiam sejenak. Aku juga bingung mau jawab bagaimana. Aku tidak biasa memulai pembicaraan dengan orang asing. Tapi tiba-tiba, dia bilang…
“Sudah yuk. Ikut aku.” Katanya.
“Hah?”
“Daripada bengong ngeliatin orang kecelakaan gitu ‘kan ngeri. Mending ikut aku.”
“Kemana memangnya?”
“Ke langit. Hehe…”
Hah? Apa-apaan sih orang ini? Baru juga kenal. Tiba-tiba mengajakku pergi. Bilangnya ke langit lagi. Lebay amat. Padahal aku ‘kan punya urusan yang lebih penting.
Dan sekelebat ingatan pun terlintas dikepalaku.
Kilau lampu sorot dari sebuah mobil.
Bunyi klakson dan suara rem yang memekik.
Suara besi beradu besi…

“Jadi… Yang disana itu aku…?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar